saya mahasiswi fakultas psikologi semester 6 di salah satu universitas swasta di jakarta.
sebagai seorang calon psikolog, tentu jalan saya masih panjang. sangat panjang.
setelah lulus dari S1 (kemungkinan tahun depan,doakan saja), saya masih harus belajar di tingkat S2 untuk meraih gelar psikolog.
saya sadar, saya tidak pernah bercita-cita jadi seorang psikolog. satu hal yang menyebabkan saya ingin menjadi psikolog adalah karena jurusan bahasa tidak dapat melanjutkan ke fakultas kedokteran. mungkin bisa, tapi saya tidak dapat menyanggupi jika harus belajar biologi dalam waktu yang singkat untuk bisa mengikuti tes masuknya.
ketika pertama kali masuk jurusan bahasa, ada satu guru saya, dia seorang guru bahasa jerman. "kamu tadinya mau masuk IPA ya?jangan mentang2 g masuk IPA terus nyepelein jurusan bahasa ya." kata-kata itu yang beliau ucapkan ketika saya mengambil buku-buku sekolah ketika kenaikan kelas. JLEB. mantap rasanya bagai ditendang. padahal, ketika tahu saya masuk jurusan bahasa, saya menangis berhari-hari sampai-sampai ketika penerimaan raport mata saya masih bengkak dan merah. karena kata-kata beliau, alhamdulillah, tidak pernah ada angka merah di ulangan dan raport saya. ulangan bahasa jerman (yang diajar oleh beliau juga) pertama saya ketika ada di jurusan bahasa mendapat nilai 90. dan saya dipuji-puji oleh beliau. padahal, waktu kelas 1, ulangan jerman saya bahkan tidak pernah sampai angka 50. semuanya berkat kata-kata beliau.
beruntunglah saya (atau tidak?), saya dapat masuk ke universitas ini tanpa mengikuti tes. nilai raport yang memadai menjadi syarat untuk masuk universitas tersebut tanpa tes, dan biaya masuk yang jauh lebih murah.
belajar di universitas ketika semester-semester awal sungguh tidak menyenangkan. membuang waktu di kampus menunggu kelas, harus mempelajari SEMUA yang bahkan menurut saya tidak ada hubungannya dengan psikologi. dan juga, tugas yang luar biasa banyak. tapi semuanya bisa dilewati jika saya rajin. sayangnya, ternyata saya tidak serajin yang saya kira. saya gagal di 2 mata kuliah terpenting. akibatnya, saya tertinggal kira-kira 2 semester dari teman-teman saya. masih banyak mata kuliah yang belum bisa saya ambil karenanya.
dikarenakan mama saya yang berpengalaman dengan anak yang gagal kuliahnya, mama jadi lebih khawatir. saya diharuskan mengambil sks sebanyak-banyaknya tiap semester. tentu saya sebagai anak pertama dan wanita, saya tidak ingin melawan mama saya yang membiayai kehidupan rumah tangga ini seorang diri. pada awalnya saya merasa keberatan dengan kondisi di mana saya harus mengambil sks sebanyak-banyaknya tiap semester. tapi pada kenyataannya, saya masih bisa bermain internet, menonton youtube, mengupdate blog dsb. dan tentu saja, saya masih gagal lagi dalam 2 mata kuliah yang kembali menghambat saya.
terpisah dengan teman-teman seangkatan, saya terpaksa mengambil kelas yang sama dengan angkatan bawah saya. kekurangan teman, kerja kelompok pun saya lakukan dengan orang-orang yang tidak saya kenal dekat atau bahkan tidak kenal sama sekali. seperti contohnya pada saat ini. saya mengambil beberapa kelas yang saya tidak kenal orangnya bahkan tidak sesuai dengan peminatan saya yaitu psikologi klinis. akibatnya, saya tidak mempunyai bahan untuk uts pada hari kamis besok yang harus selesai hari rabu besok.
ada 1 mata kuliah lagi yang mengharuskan saya untuk kerja kelompok berdua dengan teman yang tidak saya kenal dekat walau seangkatan. alhasil, praktek dilakukan hari jumat, dan sampai saat ini, persiapan kelompok kami kurang lebih hanya 15%.
sebagai seorang calon psikolog, saya diharuskan bisa membaca diri saya, dan situasi saat ini dan ke depannya sebelum dapat melanjutkan lagi (setidaknya itu target saya). saya sadar, sekarang saya berada di dalam kondisi yang amat sangat terpuruk. situasi di rumah, lingkungan sosial saya, lingkungan kampus saya, entah kenapa semua sedang dalam kondisi yang sangat tidak mendukung saya. atau entah, mungkin ini bawaan hormon menjelang menstruasi.
saat ini tentu saya butuh tempat berkeluh kesah.tapi ternyata, image yang saya punya di lingkungan sosial saya adalah orang yang selalu penuh canda, tidak pernah serius dsb.
sayang, karena image tersebut (yang saya jaga dan akan terus saya jaga) membuat saya sulit untuk berkeluh kesah. ada hal-hal yang saya haramkan untuk bicarakan pada ibu saya. karena saya merasa jika saya menceritakan hal tersebut pada ibu saya maka akan melukai hatinya. saya merasa, jika saya bercerita tentang betapa letihnya saya kuliah, betapa letihnya saya mengerjakan tugas, betapa letihnya saya membaca beratus-ratus lembar buku kuliah, itu semua tidak sebanding dengan apa yang ibu saya lakukan.
di mata ibu saya, saya adalah anak yang selalu di depan komputer. SELALU. pada kenyataannya memang betul. hal ini juga yang menyebabkan saya tidak lulus 4 mata kuliah. tapi saya juga mengerjakan tugas, juga menjaga lingkungan sosial saya, juga menambah wawasan saya di luar indonesia. tapi sekali lagi, jika saya mengatakan ini pada ibu saya, tentu tidak sebanding dengan apa yang beliau lakukan untuk saya hingga saat ini.
apa yang terjadi ketika saya cerita dengan teman saya?saya merasa kurang mendapatkan feedback dari mereka. memang saya memilah milah teman. ada teman yang hanya untuk bersenang-senang saja. ada teman yang hanya untuk urusan kuliah saja. ada teman yang untuk ngaco-ngaco saja dan lain sebagainya.
ketika saya ingin bercerita, ternyata saya dijadikan tempat curhatan mereka terlebih dahulu. karena masalah yang mereka alami, saya pun jadi urung untuk bercerita masalah saya.
di satu mata kuliah yang saya ambil, dosen saya (seorang psikolog) berkata bahwa menjadi seorang psikolog atau terapis rentan dengan secondary trauma. dosen saya pernah trauma sampai mimpi buruk yang berkelanjutan karena masalah dari klien yang sedang ditanganinya.
lantas, apa jadinya saya? memegang gelar sarjana saja belum. tapi yang bisa saya lakukan hanya mengeluh mengeluh dan mengeluh. terkadang saya iri terhadap SNSD contohnya. tugas mereka hanya mempercantik diri, menyayi dan menari. uang pun mengalir dahsyat. dan mungkin jauh lebih besar dari gaji yang akan saya dapat dari pekerjaan psikolog nanti. mereka tidak punya beban (mungkin beban jaga imagenya cukup berat). tapi setidaknya tidak menyinggung masa depan orang. bayangkan jika seorang psikolog salah mendiagnosis karena dirinya sendiri sudah cukup stress?
percaya tidak percaya, hal ini sering saya lakukan ketika latihan di mata kuliah.
panjang juga postnya.menghabiskan waktu untuk curhat pada dunia maya. entah yang baca siapa. mungkin maya. atau mey-chan.
0 comments:
Post a Comment